TINGGAL TENANG

Martin dan istrinya panik. Tiba-tiba saja putra sulung mereka yang masih kuliah mengaku telah menghamili kekasihnya. Dalam kepanikan, Martin memutuskan untuk menikahkan putranya secepat mungkin, walau kondisi keuangannya tidak mencukupi. Dipinjamnya sejumlah uang dari seorang rentenir. Setelah pesta pernikahan usai, masalahnya belum selesai. Kini Martin terbelit utang dengan bunga tinggi. Penagih utang terus mendatanginya. 
Rumah tangga putranya pun dilanda aneka persoalan karena kurang persiapan. Dalam kepanikan orang cenderung berpikir praktis, tidak berpikir panjang. Tak heran keputusan yang dibuat saat panik, umumnya membuat situasi bertambah runyam. Ketika umat Israel menghadapi perang, me¬reka juga panik. Perhitungan di atas kertas menunjukkan bahwa kekuatan musuh jauh lebih besar. Karena takut kalah, mereka segera meminta bantuan kepada tentara Mesir yang terkenal tangguh. Faktor Tuhan lupa dimasukkan dalam perhitungan. Padahal ini faktor penentu kemenangan! Kepanikan telah menggiring umat mencari solusi cepat dan praktis. Akhirnya, mereka memilih ”naik kuda dan lari cepat,” ketimbang mendengar nasihat Tuhan untuk bertobat dan tinggal tenang! 


Hasilnya? Usaha mereka itu sia-sia. Malah menambah masalah. Kepanikan biasanya muncul saat kita menghadapi situasi sulit dan terjepit. Hadirnya tak dapat ditolak, namun dapat diredakan. Tenangkan diri di hadapan Tuhan. Diam. Lalu minta Tuhan untuk memegang kendali dan menunjukkan jalan. Jangan terburu-buru mengambil keputusan, sebelum yakin itu jalan Tuhan.


Beriman berarti menolak dikuasai oleh kepanikan lalu membiarkan diri dikuasai oleh Tuhan

Sumber: www.renunganharian.net

Comments :

0 komentar to “TINGGAL TENANG”

Posting Komentar